Jhohanes Silalahi-s banner image

Kisah Alumnus JCU yang Terapkan Ilmu Mengelola Manusia dan Waktu di Stockbit dan Tokopedia



Setelah lulus dari sekolah menengah atas (SMA) pada 2012, Jhohanes Silalahi sempat bingung untuk melanjutkan studi apa dan di mana. Namun, dia memiliki misi hidup, yakni membantu orang lain.

Dari misi itu, dia mengurainya dua cara dalam membantu orang lain, yaitu secara fisik dan mental. Menurutnya, membantu secara fisik bisa dilakukan sebagai dokter. Lalu, membantu secara mental bisa dilakukan sebagai psikolog.

Hal terakhir mempertemukannya dengan James Cook University (JCU), salah satu kampus yang memiliki program Psikologi dengan predikat Top 2 Percent di seluruh dunia.

Selain itu, JCU juga menarik baginya karena kampus ini menawarkan program pendidikan Two Plus One, yaitu dua tahun fokus belajar dan satu tahun fokus pada penelitian.

“Jadi secara timeline cepat. Kami enggak fokus ke hal-hal yang kurang penting. JCU ngasih kami what’s really important for us. Kalau mau belajar psikologi, ya, psikologi end-to-end,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (17/7/2024).

Saat belajar Bachelor of Psychological Science di JCU, Jhohanes mengaku segan dengan suasana kelas, terutama warga Singapura, yang gemar belajar dan sangat aktif di kelas.

Sebagai pendatang, hal itu membuatnya tertantang untuk berusaha lebih aktif dan kompetitif agar tidak ketinggalan kelas.

“Walaupun kompetitif, warga lokal Singapura sangat membantu dalam berbagi ilmu, meski semua orang tidak punya privilege dan English level yang sama,” ungkapnya.

Jhohanes juga mengaku senang dengan dosen JCU yang sangat membantu dan menyambutnya jika membutuhkan bantuan, terutama ketika dia mengerjakan penelitian.

Dia menyebutkan, dosen pembimbingnya sangat perhatian dan terbuka untuk berdiskusi dalam berbagai waktu.

“Dosen pembimbing di sini very helpful. Kami tanya jam berapa pun via email, dia. Misalnya saya mengirim pekerjaan malam hari, besoknya pukul 6 atau 7 sudah dibalas,” katanya.

Jhohanes mengaku bahwa belajar di JCU menjadi pengalamannya berkuliah di luar negeri sendirian. Ia pun menemui sejumlah tantangan ketika menempuh pendidikan di Negeri Singa tersebut.

Salah satu tantangan yang dia rasakan perkuliahan yang mengharuskannya membaca banyak jurnal untuk bisa mengikuti perkuliahan.

“Gimana caranya kamu yang selama ini enggak bisa baca jurnal, tiba-tiba setiap hari ketika harus masuk ke tutorial class. You have to prepare yourself,” ungkapnya.

Jhohanes mencontohkan, dalam satu kelas, setidaknya dia membutuhkan membaca 20 jurnal untuk bisa terlibat diskusi di dalam kelas.

“Bayangkan, satu semester ada empat kelas, kalau satu hari ada empat kelas, berarti ada 80 jurnal yang harus dibaca. Itu agak pusing awalnya, tapi we learn through the process,” jelasnya.

Meski demikian, Jhohanes mengaku bersyukur dengan fasilitas perpustakaan JCU yang memiliki buku-buku lengkap untuk mendukungnya belajar. Jika tidak ingin membeli buku pun, mahasiswa bisa mengakses buku perkuliahan dengan mudah.

“Bahkan, setelah lulus pun, saya masih bisa baca-baca jurnal yang saya butuhkan atau berhubungan dengan pekerjaan,” katanya.

Bekerja untuk belajar

etelah lulus pada 2015 dan kembali ke Indonesia, Jhohanes ingin bekerja sebagai peneliti yang berhubungan dengan psikologi.

Namun, dia belum menemukan perusahaan yang mau berinvestasi banyak di bidang penelitian. Di sisi lain, sebagai satu-satunya anak di keluarganya, Jhohanes merasa perlu untuk membantu orangtuanya pada saat waktunya tiba.

Untuk itulah dia bergabung dengan Tokopedia yang baru tumbuh. Saat itu, startup unicorn ini belum terkenal dan diminati seperti sekarang.

“Di perusahaan yang masih bertumbuh, you learn a lot. Poin saya adalah belajar dulu. Namanya fresh graduate enggak punya pengalaman,” ujarnya.

Jhohanes mengaku ingin belajar banyak hal dalam waktu yang singkat. Jika bekerja di perusahaan besar yang sudah established, dia akan mendapatkan pekerjaan yang sudah sesuai tugasnya. Namun, di Tokopedia, dia dipercaya untuk mengelola berbagai macam tugas yang membantunya belajar banyak hal.

“Satu orang mungkin belajar dalam 10 tahun, tapi saya bisa belajar dalam tiga tahun. Ini sesuatu yang saya dapatkan kalau belajar di startup,” ungkapnya.

Pada 2020, Jhohanes pindah ke perusahaan teknologi investasi Stockbit & Bibit sebagai human resources management (HRD).

Dia mengelola berbagai hal, mulai dari human resources business partner (HRBP), people operation, office management, dan asset management dengan 17 tim dari total 700 karyawan.

Terkait pengalamannya belajar di JCU, Jhohanes juga mengaku sangat terbantu di dunia kerja.

Salah satunya adalah pengelolaan waktu karena dia memiliki jadwal yang padat dan tugas yang banyak. Itu membantunya dalam mengatur prioritas.

“Ini relevan dengan pekerjaan sekarang. Karena sudah belajar tiga tahun, it’s easy to determine mana yang dikerjakan dulu mana yang enggak,” ujarnya.

Di dunia kerja, Jhohanes bertugas memberi pembelajaran atau pelatihan untuk para karyawan. Kompetensi melatih orang ini salah satunya dia dapatkan lewat mata kuliah Learning Behavior yang mengajarkan mahasiswa untuk "memahami orang" secara efektif.

"(Learning Behavior) relevansinya sangat dekat. Contohnya, ketika ingin membuat kurikulum pembelajaran di departemen saya, saya sadar bahwa manusia hanya bisa menghafal sekian kata, sehingga media pembelajaran dibuat lebih ringkas atau sederhana," ungkapnya.

Pengalaman berharga di JCU yang juga sangat membantu Jhohanes adalah pelajaran terkait konseling. Hal ini berguna ketika dia menghadapi isu-isu dari sesama karyawan atau klien.

“Kami mendengarkan berbagai concern kepada bawahan atau atasan. Kami menggunakan metode-metode yang dipelajari di dunia kerja,” jelasnya.

Dalam bekerja, Jhohanes pun mempraktikkan alat-alat tes yang bisa digunakan untuk melakukan assessment, misalnya cognitive behavior. Materi ini didapatkannya saat berkuliah di JCU.

Jhohanes mencontohkan, saat mencari orang untuk posisi sales, dia akan mencari orang yang interaktif atau bisa banyak berbicara. Hal tersebut tidak cukup dilakukan dengan wawancara, tetapi juga tes.

“Kami punya alat tes, namanya personality test. Bahasa gampangnya, ini yang introvert yang mana, yang ekstrovert yang mana. Kalau mau cari sales, yang dicari enggak capek kalau habis ngomong. Intinya, kami menggunakan teori-teori dalam psikologi untuk membantu mengambil keputusan,” ujarnya.

Pelajari lebih lanjut mengenai program perkuliahan yang ada di James Cook University dengan menghubungi tim kami disini

Tim Redaksi KOMPAS.com : Inang Sh, A P Sari